tentang sapi ….

June 4, 2008

Surat Yunus Ayat 99-100

Filed under: Nggreneng — Tags: , , , — macanmulato @ 10:16 am

Kontribusi dari Ahmad Syafii Maarif
Selasa, 03 Juni 2008
Arti selengkapnya dari surat Yunus ayat 99 ini adalah: “Dan sekiranya Tuhanmu menghendaki, tentu berimanlah semua manusia yang ada di muka bumi. Lantaran itu, patutkah engkau memaksa manusia agar mereka beriman seluruhnya?” Ayat 100 berikutnya: “Dan tidaklah seseorang akan beriman, melainkan dengan izin Allah.” Artinya, untuk beriman perlu lampu hijau dari Allah, menurut ayat ini. Tanpa perkenan dari Yang Maha Pemberi Izin, iman itu tidak akan terjadi. Sebab itu, menurut surat Makkiyyah ini, setiap paksaan untuk beriman, halus apalagi kasar, sepenuhnya melanggar ketentuan Allah.

Adapun menyampaikan dakwah agar manusia mau beriman, jelas merupakan kewajiban agama. Tetapi dalam proses dakwah itu, unsur paksaan dilarang keras. Sebenarnya jika mau jujur, di antara metode dakwah yang paling efektif ialah dakwah dengan contoh perbuatan. Tidak usah jauh-jauh mencari contoh. Di sebuah RT, misalnya, ada dua keluarga Muslim yang jadi buah bibir masyarakat sekitarnya dalam arti positif, padahal lingkungannya mayoritas non-Muslim. Orangnya ramah, sopan, suka memberi siapa saja, tidak terikat dengan agama yang dipeluknya. Penampilannya tidak dibuat-buat, lumrah, semuanya autentik sebagai tanda percaya diri yang tinggi. Jika ada kematian di RT itu, keluarga Muslim itu cepat turun tangan untuk mengulurkan bantuan apa yang mungkin. Dunia fitnah dijauhinya. Menghukum mereka yang seagama tetapi tidak sepaham dalam penafsiran, pantangan baginya. Kenisbian manusia untuk menangkap yang mutlak adalah pegangan utamanya dalam beragama. Seluruh warga RT itu merasa akan sangat kehilangan jika dua keluarga Muslim itu pindah ke tempat lain. Di mana-mana akan terdengar ucapan: “Aduh, mengapa si anu itu pindah dari lingkungan kita, padahal kita sangat memerlukannya agar tetap bersama kita di sini, sekalipun kita berlainan agama.”

Contoh yang saya berikan ini bukanlah sesuatu yang asing, semuanya empirik, dapat dilakukan siapa saja, apa pun agama yang dipeluknya. Jika kemudian ada yang tertarik untuk mengikuti agama dua keluarga Muslim itu secara sadar, tanpa ada tanda-tanda paksaan, maka boleh jadi izin Allah untuk beriman itu memang sedang berlaku. Teladan yang ditunjukkan dua keluarga Muslim itu semata-mata sarana bagi keluarnya izin itu. Tidak lebih dari itu.

Saya punya pengalaman khas tentang hal yang mirip, saat saya kuliah dengan Fazlur Rahman di Universitas Chicago. Mahasiswa yang ikut kuliahnya berasal dari bermacam agama: Katolik, Protestan, Shinto, Yahudi, dan Muslim. Dengan kepercayaan diri yang sangat kuat, Rahman dalam seluruh kuliahnya tidak ada bayangan agar mahasiswanya menjadi Muslim. Mungkin Rahman berpendapat, daripada menambah pengikut, lebih baik jumlah Muslim sedunia di atas satu miliar itu ditingkatkan kualitasnya.

Tetapi, apa yang terjadi? Beberapa mahasiswanya yang non-Muslim saya dengar belakangan telah menjadi Muslim atau Muslimah, sesuatu yang tidak diniatkan Rahman sewaktu memberi kuliah. Metode perkuliahan yang mendalam, objektif, tanpa basa-basi, rupanya telah bersarang secara diam-diam dalam otak dan hati para mahasiswanya. Maka, terjadilah apa yang terjadi. Izin Allah rupanya berlaku melalui cara-cara yang tak disengaja itu. Tentu saja ruh Rahman di alam baka tersenyum menyaksikan apa yang terjadi pada sejumlah mantan mahasiswanya, sebagian adalah teman-teman sekelas saya. Sebab itu, Anda janganlah terlalu bernafsu untuk ‘menaklukkan’ dunia agar beriman seperti Anda. Biarlah proses itu berjalan secara wajar. Bukankah kualitas itu jauh lebih penting dari kuantitas, jika kuantitas itu tidak lebih dari beban sejarah?

Dua contoh, RT dan Rahman, mungkin dapat dijadikan bahan renungan: satu untuk akar rumput, yang lain untuk tingkat yang lebih tinggi. Tetapi ingat, Rahman pernah dihalalkan darahnya di Pakistan, tanah airnya, oleh mereka yang wawasan keagamaan dan kemanusiaannya hanyalah sebatas tuturan atapnya, atau paling jauh sebatas halaman rumahnya. Kata pepatah: “Jika kail panjang sejengkal, janganlah laut hendak diduga!” Mari kita sama-sama belajar dari sumber yang beragam untuk saling bertukar pendapat dengan cara yang santun, jujur, dan mendalam. Musuh terbesar kita adalah kedangkalan dan sifat memonopoli kebenaran.
(Ahmad Syafii Maarif )

Source: http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=336096&kat_id=19

May 30, 2008

Raja dan Titah Sesendok Madu – Habiburrahman El Shirazy

Filed under: Nggreneng — Tags: , , , , — macanmulato @ 12:55 pm

SAYA pernah terkesan dengan sebuah kisah yang saya dapat ketika saya masih belajar di bangku Madrasah Aliyah Program Khusus Surakarta. Kisah itu disampaikan oleh seorang ustad untuk memotivasi kami agar tidak meremehkan sebuah tanggung jawab sekecil apa pun. Kisah tentang bejana raja yang berisi air. Saat itu saya tidak tahu dari mana ustad mendapatkan kisah itu. Dari buku apa,dari kitab apa? Belakangan saya mendapati kisah serupa termaktub juga dalam buku Lentera Hati karya Prof Quraish Shihab.

Dikisahkan, suatu ketika seorang raja yang bijaksana ingin menguji kesadaran dan loyalitas rakyatnya. Sang raja menitahkan agar setiap orang pada malam yang telah ditetapkan, membawa sesendok madu, untuk dituangkan dalam bejana yang telah disediakan di puncak sebuah bukit tak jauh dari ibu kota kerajaan.

Seluruh rakyatnya pun memahami benar perintah tersebut dan menyatakan kesediaan mereka untuk melaksanakannya. Akan tetapi, ada seorang rakyat yang berpikiran nakal, terlintaslah satu cara untuk mengelak dari titah raja. Dalam hati ia berkata, “Aku akan membawa sesendok penuh, tetapi bukan madu. Aku akan membawa air. Kegelapan malam akan melindungi dari pandangan mata seseorang. Tak akan ada yang tahu. Raja juga tidak akan tahu kalau aku cuma bawa sesendok air. Dan Bukankah sesendok air tidak akan mempengaruhi satu bejana berisi madu yang dibawa oleh seluruh rakyat negeri ini”

Malam yang ditentukan telah berlalu. Dan tibalah saat yang bersejarah untuk melihat isi bejana. Betapa kagetnya sang raja, juga seluruh rakyatnya, ternyata bejana yang besar itu hanya penuh dengan air saja.

Rupanya seluruh rakyat negeri itu memiliki pikiran nakal yang sama.

Punya ide negatif yang sama. Mereka berpikir hanya dirinyalah yang membawa sesendok air, yang lain pasti membawa madu. Mereka berpikir bahwa jika cuma dirinya saja yang membawa sesendok air dan seluruh rakyat membawa madu, maka tidak apa-apa. Tidak berpengaruh apa-apa.

Seluruh rakyat berpikiran yang sama, jadinya bejana itu tidak berisi madu seperti yang diharapkan sang raja, tapi berisi air.

Dulu, saat mendengar cerita itu saya sempat tersenyum karena lucu. Namun belakangan ini, ketika mengingat kembali kisah bejana berisi air itu di sela-sela aktivitas saya, saya tidak lagi bisa menemukan perasaan lucu itu. Sebaliknya, yang terbit justru perasaan miris, yang tiba-tiba mencengkeram batin saya. Ada rasa takut bahwa dua adegan dalam kisah di atas tidak lagi menjadi cerita dongeng belaka, tapi telah sungguh-sungguh, menjelma menjadi sebuah potret atas kenyataan yang sedang berlangsung di negeri kita. Di mana seluruh penduduknya adalah aktor dengan watak yang serupa dalam dua cerita di atas.

Jujur, kita masih sangat sering menjumpai dan mendengar adanya oknum pegawai negeri yang keluyuran di tengah-tengah jam kerja. Dia mungkin berpikir, “Ah cuma setengah jam. Tidak akan mengganggu kinerja. Tidak akan merugikan negara. Tidak akan menghambat kemajuan negeri ini.”

Cobalah kita renungkan jika ada ratusan ribu pegawai negeri yang berpikiran dan berperilaku seperti itu, berapa besar kerugian negara ini. Berapa besar jumlah uang rakyat yang digunakan untuk menggaji orang-orang yang kerjanya keluyuran seperti itu.

Beberapa waktu yang lalu kita mendengar ada oknum guru yang membocorkan kunci jawaban ujian nasional. Mungkin guru itu berpikiran sangat pragmatis, “Ah yang aku beri tahu kunci jawaban itu cuma satu dua orang muridku. Tidak akan mempengaruhi SDM bangsa Indonesia. “. Saya sangat khawatir jika ternyata yang berpikiran tidak disiplin dan sembrono seperti itu ternyata tidak satu dua guru, bagaimana jika puluhan ribu guru?

Kita juga masih sering mendengar berita pejabat dan anggota dewan yang berperilaku amoral. Hotel prodeo sesak oleh oknum pejabat dan anggota dewan yang terbukti korupsi. Mungkin saat mereka melakukan korupsi berpikiran, “Ah jika aku ambil sedikit kan tidak apa-apa. Negara ini kaya, diambil sedikit tidak kentara dan tidak berpengaruh apa-apa.”

Bagaimana jika pikiran jahat seperti itu masih mengakar di kepala para anggota dewan. Apa yang akan terjadi pada negeri ini?

Berita meninggalnya Sophan Sophian mengejutkan kita semua. Beliau meninggal karena kecelakaan di jalan raya, di Sragen. Kecelakaan karena lubang kecil saja di jalan raya. Mungkin pejabat yang bertanggung jawab saat tahu ada jalan yang lubang, dalam benaknya muncul pikiran, “Ah cuma lubang kecil. Tidak apaapa. Tidak mempengaruhi maju mundurnya Indonesia.” Ya, cuma lubang kecil. Bagaimana jika yang jatuh kemudian tewas karena lubang kecil di jalan itu adalah orang nomor satu atau nomor dua di Indonesia? Bagaimana jika yang jatuh adalah seorang ilmuwan yang sangat penting bagi Indonesia dan dunia?

Untuk menyelamatkan Indonesia sebenarnya tidak perlu teori yang muluk-muluk dan njelimet. Cukuplah dimulai dari membenahi cara berpikir seluruh elemen negeri ini. Jika seluruh elemen bangsa ini, seluruh rakyat, dan seluruh aparatur pemerintahnya berpikir positif, bersih, jujur, bertanggung jawab dan tidak mementingkan diri sendiri, Insya Allah bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar. Namun, jika ada satu orang saja di negeri ini berpikiran jahat, culas, mengkhianati negara, maka sangat berat untuk membangun Indonesia sebagai negara yang besar, makmur,dan sejahtera. Cukuplah jika Indonesia meminta sesendok madu, jangan sekali-kali–mulai presiden sampai rakyat jelata–berpikir untuk membawa sesendok air, apalagi berpikir tidak membawa apa-apa.

Berilah Indonesia sesendok madu, maka bejana Indonesia akan penuh madu.

Jika Indonesia meminta untuk tidak korupsi, untuk bertanggung jawab, jangan pernah ada yang tebersit untuk korupsi meskipun hanya sebutir kerikil, Insya Allah kita akan bangkit, maju, dan jaya. Mari kita beri sesendok madu untuk bejana Indonesia. Mari!

Jakarta,19 Mei 2008

Habiburrahman El Shirazy

Budayawan Muda, Penulis Novel Ayat Ayat Cinta

April 28, 2008

Rute balik perdana gowes

Filed under: Sepeda - Dahon P8 — Tags: , , — macanmulato @ 12:41 pm

Sempat rame juga pas siap2 mo pulang. Rame karena temen2 pada penasaran sama si Hobbes dan ketidakpercayaan padaku bahwa aku naik sepeda hari itu. Tapi dengan gaya meyakinkan dan penh semangat bahwa untuk orang seumuranku butuh olahraga…akhirnya malah pada pengin ikut nyobain…mudah2an saja tambah rame yang naik sepeda di kantor ini.

Dengan kegamangan melihat kemacetan di depan kantor, akhirnya aku putuskan untuk pulang dengan ambil rute : Gondangdia – taman surapati – manggarai – tebet barat – dewi sartika – condet – cijantung. Berangkat dari kantor jam 17.16, sampai di rumah tepat pukul 18.47 – alhamdulillah masih dapat magrib. Hitungan Velo8, jarak yang ku tempuh adalah 21.5 km – selisih 1.5 km sama rute pagi.

Kemacetan dan polusi karena asap bajaj paling berat di sektor manggarai sampai minangkabau… kayaknya perlu masker nih minggu depan..

Sensasi yang didapat pada perdana gowes ini tak terkirakan, serasa memenangkan sesuatu yang entah aku sendiri nggak bisa mendeskripsikannya….

April 25, 2008

Bagi yang pengin jual beli tanah !

Filed under: Nggreneng — Tags: , , , , — macanmulato @ 7:44 am

Sebelumnya nggak pernah ngebayangin kalau ternyata untuk ngurusin tanah lumayan membutuhkan energi, secara sebelum-belumnya nggak pernah terlintas di benak sama sekali. Satu hal yang harus dicatat : jangan pernah datang dan minta bantuan ke orang tidak di bidangnya. Jadi sekiranya sudah firm niatnya buat urusan jual beli tanah atau sertifikat, mending langsung ke notaris yang bisa dipercaya.

nah, sekilas tentang itung2an terbaru untuk pengurusan sertifikat, beberapa hal yang harus diketahui:

  1. NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) tanah dan bangunan. Biasanya tertera saat ada tagihan pembayaran PBB.
  2. Itungan2nya :
  • Misal Luas tanah 100m2 dan luas bangunan 50m2, maka perhitungan NJKP (Nilai Jual Kena Pajak) tanah dan bangunan = ((100 x NJOP Tanah) + (50 x NJOP Bangunan)) – Rp. 60.000.000
  • Pengurusan SSB (Surat Setoran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan) = 5% x NJKP
  • Pengurusan SSP (Surat Setoran Pajak) = 5% x ((100 x NJOP Tanah) + (50 x NJOP Bangunan))
  • Pengurusan AJB (Akte Jual Beli ) = 1% x NJKP
  • Pengurusan sertifikat , untuk area jakarta dalam kisaran Rp 2 juta – 3 juta
  • Total biaya adalah point 2 sampai dengan point 5

silahkan untuk diperhitungkan sesuai dengan luas lahan dan bangunan yang dimiliki, dan sebaiknya pembuatan sertifikat harus tidak boleh lebih dari 14 hari sejak AJB dibuat, karena jika tidak bisa kena denda.

Orang bijak, taat pajak !

Pertama gowes .. lonely ranger

Filed under: Sepeda - Dahon P8 — Tags: , , , — macanmulato @ 6:57 am

Tepat jam 5.10 pagi, si Hobbes sudah nangkring di depan pagar siap untuk meluncur perdana dan langsung berambisi untuk mencapai kantor di bilangan Gambir. Dengan mengucap bismilah dan guratan senyum, si Hobbes pun dikayuh dengan pasti….

Dari rumah menuju kantor, rute yang di ambil adalah : mall cijantung – condet – dewi sartika – matraman – cikini – gambir… selama perjalanan, alhamdulillah aman dan si Hobbes tampak kokoh meskipun agak diragukan saat pertama di kayuh.

Kenikmatan yang selama ini didamba benar-benar didapat dan tak terasa kantor sudah nampak di depan, padahal waktu masih menunjukkan 6.05.

Sampai di ground, ngadem sejenak…minum air kemasan satu botol dan si Hobbes langsung di lipat terus dibawa ke atas. Hasil perjalanan yang dicatat sama si Velo8:

  1. Waktu tempuh : 56 menit 56 detik
  2. Jarak tempuh : 20.36 km
  3. Average speed : 21.4 km/h, Max speed : 32.9 km/h
  4. Calorie consumption : 296.4 kcal

Perjalanan pagi memang menyenangkan…. tapi belum kebayang perjalanan pulang nanti …. tapi satu niat sudah bulat… Let’s Go Green !!!!!!!!!!!

April 18, 2008

Lock-pin have been installed

Filed under: Sepeda - Dahon P8 — Tags: , , , , , — macanmulato @ 3:22 pm

Nah, kemarin khan si Dahon khan belum bisa berdiri dengan tegak gara-gara lock-pin nya ngga ada. Selasa malem, akhirnya si lock-pin ketemu meski nggak ada ring capit alias kancingan nya. Mungkin gara-gara ini makanya si lock-pin bisa lolos dari tempat.

Berhubung sudah ngebet pengin sepedaan, akhirnya lock-pin di pasang dan ditahan pake ring biasa dulu. Rencana sabtu bsk mo cari si ring capit itu ke bengkel. Atau ada yg tahu dimana belinya ?

April 14, 2008

Abon sapi yang yummy..

Filed under: Abon Sapi — Tags: , , — macanmulato @ 12:20 pm

Abon Sapi

entah kenapa, kesukaan anakku hampir sama saat aku masih seumur dia…makan apapun, pokoknya harus ada abon… syukurnya, hampir tiap beberapa bulan mBah Ti dari kampung selalu kirim abon. abon dari mbah Ti ini, rasanya sudah “nggenggam” banget sama lidahku.. mungkin karena rasanya yang pas dengan lidah jawaku..

gara-gara bawa sample ke teman-teman yang ternyata pada suka, akhirnya abon ini pun jadi komoditi yang aku ditawarkan kepada para penggemar abon, sekalian membangun dunia UKM sebagai soko guru ekonomi bangsa.. bagi penggemar abon, bisa order ke macan_mulato@yahoo.com. 1/4 kg nya dibandrol Rp 37.500…

Fresh from the box..

Filed under: Sepeda - Dahon P8 — Tags: , , — macanmulato @ 11:48 am

Dahon, Fresh from the box

setelah menunggu hampir 3 bulan…sebuah telepon dari Mr. Jack Daniel melebarkan senyumku di hari minggu… dahon p8 speed sudah datang dan tinggal di ambil…dengan semangat goes yang makin tinggi, ku ambil sepeda itu dan setibanya di rumah langsung di buka buat di pasang-pasang…

tapi memang antara keinginan dan kenyataan semua berpulang kepadaNya… sepeda sudah berdiri dan … masih ada satu lock-pin yang nggak ada…cari di kardus, di halaman (takut jatuh)..nggak nemu juga… wah…nggak bisa sepedaan dulu nih minggu ini…

hasil kontak ke Mr. Jack Daniels dan koleganya…ternyata lock-pin tercecer…wah, senang rasanya… jadi minggu ini persiapan yang lain dulu…sepedaan masih sabar menanti.

April 8, 2008

back to the road!

Filed under: Nggreneng — macanmulato @ 5:07 am

setelah hampir 4 tahun nggak sempat menarsiskan diri…akhirnya di penghujung bulan April 2008, mulailah blog ini dibuat…mudah-mudahan bermanfaat…

Blog at WordPress.com.